Laporan Dewan Direksi

Pemegang saham yang terhormat,

Sebagaimana kita ketahui bahwa pertumbuhan sektor properti sangat dipengaruhi dinamika perekonomian global dan kebijakan fiskal nasional. Kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, volatilitas nilai tukar rupiah, serta pengetatan likuiditas global dapat menahan kinerja sektor properti. Itulah yang terjadi di sepanjang tahun 2018.

Pertumbuhan pasar properti sepanjang 2018 belum seperti yang diharapkan. Konsumen dan investor properti cenderung mengambil sikap wait and see dan jikapun melakukan pembelian, mereka sangat selektif.

Perseroan mencermati bahwa pemerintah telah meluncurkan sejumlah stimulus untuk mendorong pertumbuhan pasar properti sepanjang tahun 2018. Namun kebijakan-kebijakan tersebut belum mampu mendorong industri properti.

Kinerja Intiland

Pada 2018, Intiland mencatatkan pendapatan marketing sales sebesar Rp 2,28 triliun, lebih rendah dibandingkan 2017 sebesar Rp 2,93 triliun. Nilai perolehan ini setara dengan 67,5% dari target 2018 sebesar Rp 3,38 triliun. Penurunan marketing sales ini terutama disebabkan kondisi pasar properti yang kurang baik akibat turunnya minat beli konsumen.

Namun pada tahun 2018 tersebut, Perseroan berhasil meningkatkan kinerja pendapatan berkelanjutan sebesar 12,8% dari Rp 528,2 miliar di 2017 menjadi Rp 595,7 miliar di 2018. Peningkatan ini terutama bersumber dari pendapatan sewa perkantoran dan kawasan industri. Ke depan, kontribusi pendapatan berkelanjutan ini diharapkan akan terus meningkat seiring dengan selesainya pengembangan perkantoran dan ritel seperti Praxis dan Spazio Tower di Surabaya.

Pada 2018, Perseroan masih menerapkan kebijakan konservatif dalam berekspansi, fokus pada proyek-proyek yang sedang berjalan dan melakukan optimalisasi atas lahan yang telah dimiliki. Uji coba pasar dan kajian secara seksama harus dilaksanakan agar proyek yang disiapkan dapat diserap dengan baik oleh pasar. Jika pasar kurang kondusif, manajemen dengan tegas akan memilih untuk lebih mematangkan perencanaan, apalagi jika menyangkut pengembangan high-rise yang beresiko sangat tinggi.

Terlepas dari tantangan berat di tahun 2018, Intiland menorehkan prestasi melalui kinerja dan karya properti yang mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan. Ada tiga belas penghargaan yang diterima oleh Intiland sepanjang 2018, mulai dari penghargaan khusus sebagai The 2018 Real Estate Personality of the Year, penghargaan kepada Intiland sebagai korporasi dan tentu saja penghargaan kepada proyek-proyek yang telah bekerja keras.

Dalam hal tata kelola, kami terus memperbaharui dan memperbaiki penerapan tata kelola di semua level organisasi. Dengan dukungan penuh dari dewan komisaris dan seluruh organ perusahaan, kami terus melakukan evaluasi atas implementasi tata kelola agar semakin mumpuni.

Dengan diluncurkannya POJK no 51/POJK.03/2017 mengenai penerapan keuangan berkelanjutan, kami pun mempersiapkan diri dengan dibantu oleh GRI (Global Reporting Initiative). Prinsip keberlanjutan merupakan salah satu prinsip dasar yang kami pegang dalam pengembangan bisnis kami di mana di dalamnya kami juga menerapkan pengelolaan tanggungjawab sosial perusahaan dalam proses bisnis kami agar berdampak positif bagi lingkungan secara berkelanjutan.

Untuk memperkuat posisi bisnis Intiland, Rapat Umum Pemegang Saham 20 April 2018 telah menyetujui pengangkatan Utama Gondokusumo sebagai wakil direktur utama dan Permadi Indra Yoga sebagai direktur yang membawahi pengembangan bisnis.

Prospek usaha

Perekonomian Indonesia yang terus tumbuh positif merupakan pasar yang menjanjikan apalagi ditambah dengan bonus demografi penduduk Indonesia. Kondisi ini menjadi asumsi optimis bahwa industri properti akan bertumbuh di 2019.

Selain itu ada beberapa faktor yang juga berpotensi akan mendorong industri properti bergeliat kembali di tahun 2019 setelah lesu sepanjang tahun 2018, yaitu antara lain (1) penyelesaian proyek infrastruktur pemerintah, (2) kenyataan bahwa rumah di bawah Rp 2 miliar masih diminati konsumen, (3) masih tingginya angka backlog perumahan sehingga menjadi potensi pasar yang besar, (4) adanya rencana pemerintah untuk menghapus pajak penghasilan pasal 22 (PPh 22) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) atas properti, serta (5) kebijakan Bank Indonesia melonggarkan uang muka dan loan to value KPR.

Mempertimbangkan faktor-faktor tersebut di atas, kami optimis Perseroan akan mampu menjaga stabilitas keuangan dan tingkat pertumbuhan usaha. Namun melihat tantangan dan risiko yang masih tinggi, Perseroan akan tetap menerapkan kebijakan yang konservatif dan prudent dalam pengembangan bisnisnya. Perseroan membuka peluang menjalin kerjasama strategis untuk pengembangan proyek-proyek baru. Kebijakan ini merupakan strategi untuk mempercepat pertumbuhan kinerja, menjalankan manajemen risiko serta meningkatkan nilai investasi secara jangka panjang. Perseroan juga akan fokus pada upaya memasarkan inventori dari proyek-proyek yang sedang berjalan serta melepaskan aset yang tidak masuk kategori inti dan kurang produktif.

Apresiasi

Atas nama Direksi, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh pemegang saham, dewan komisaris beserta seluruh komite, pelanggan setia dan mitra usaha serta seluruh karyawan atas dukungan, kepercayaan dan kerjasama yang telah terjalin dengan baik. Dengan kolaborasi yang erat, kita akan mampu melewati segala tantangan dengan baik dan bersama tumbuh berkontribusi bagi pembangunan negeri kita tercinta.

Hendro S. Gondokusumo

Direktur Utama